A. Pengetahuan dan Keyakinan
Keyakinan itu Subjektif Sedangkan Ilmu Pengetahuan itu Objektif
Namun keduanya itu tidak bertentangan sama sekali karena keduanya itu sesungguhnya tunggal.
Pengetahuan adalah informasi yang diketahui atau disadari oleh manusia, atau pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan indrawi.Pengetahuan akan muncul ketika orang menggunakan akal atau indranya untuk mengenali benda atau peristiwa tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan. Misalnya, saat pertama kali orang makan cabai maka Dia akan tahu bagaimana rasa cabai itu, bentuknya, warnanya, atau bahkan akan bertanya-tanya apa zat-zat apa yang dikandungnya.
- Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan manusia saat dia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran. Maksudnya adalah orang akan merasa yakin kalau apa yang mereka ketahui adalah benar. Jadi, keyakinan adanya suatu kebenaran.
Ada dua istilah yang berhubungan dengan keyakinan dan pengetahuan.
1. Magic power- (kekuatan magis) –> fenomena kekuatan gaib. Orang yang lebih percaya pada sesuatu yang aneh(karena tidak tahu sebabnya) sebagai kekuatan magis
2. Naturalisme, berarti sesuatu yang alami.
B. Sumber Pengetahuan Rasionalisme dan Empirisme
Rasionalisme merupakan Hanya dengan menggunakan prosedur tertentu dari akal budi, kita bisa sampai pada pengetahuan yang sebenarnya, yaitu pengetahuan yang tidak mungkin salah. Tokoh-tokoh rasionalisme :
· Plato
· Rene Descartes
Hal penting tentang rasionalisme :
- Lebih mengandalkan geometri atau ilmu ukur dan matematika yang yang memiliki aksioma-
aksioma umum dan lepas dari pengalaman atau pengamatan panca indra.Manusia mendeduksikan atau menurunkan pengetahuan partikular dari prinsip universal yang merupakan bawaan dalam akal budi.
- Pancaindra tidak bisa diandalkan untuk memberi kita pengetahuan yang sebenarnya.Semua pengetahuan adalah pengetahuan apriori yang mengandalkan silogisme.
Empirisme: Menekankan bahwa sumber satu-satunya bagi pengetahuan manusia adalah pengalaman.
Prinsip-prinsip Empirisme:
- Semua proposisi yang kita ucapkan merupakan hasil dari pengalaman.
- Konsep atau ide didasarkan pada pengalaman.
- Akal budi hanya bisa berfungsi kalau punya acuan ke realitas atau pengalaman.
- Semua konsep atau ide berasal dari pengalaman manusia melalui pancaindra
- Manusia dilahirkan ke dunia ini bagaikan kertas kosong, tanpa ada ide atau konsep
apapun (Tabula Rasa).
C. Kebenaran Ilmiah
Salah satu pokok yang fundamental dan senantiasa aktual dalam pergumulan hidup manusia merupakan upaya mempertanyakan dan membahasakan kebenaran. Kebenaran boleh dikata merupakan tema yang tak pernah tuntas untuk diangkat ke ranah akal (dan batin) manusia. Kebenaran menurut arti leksikalnya adalah keadaan (hal) yang cocok dengan keadaan (hal) yang sesungguhnya. Itu berarti kebenaran merupakan tanda yang dihasilkan oleh pemahaman (kesadaran) yang menyatu dalam bahasa logis, jelas dan terpilah-pilah (Bagus, 1991:86).
Kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Di samping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.
Definisi Kebenaran
Kebenaran dapat dipahami berdasarkan tiga hal yakni, kualitas pengetahuan, sifat/karakteristik dari bagaimana cara atau dengan alat apakah seseorang membangun pengetahuan itu, dan nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu.
Sifat Kebenaran Ilmiah
Kebenaran ilmiah paling tidak memiliki tiga sifat dasar, yakni:
1. Struktur yang rasional-logis. Kebenaran dapat dicapai berdasarkan kesimpulan logis atau rasional dari proposisi atau premis tertentu. Karena kebenaran ilmiah bersifat rasional, maka semua orang yang rasional (yaitu yang dapat menggunakan akal budinya secara baik), dapat memahami kebenaran ilmiah. Oleh sebab itu kebenaran ilmiah kemudian dianggap sebagai kebenaran universal. Dalam memahami pernyataan di depan, perlu membedakan sifat rasional (rationality) dan sifat masuk akal (reasonable). Sifat rasional terutama berlaku untuk kebenaran ilmiah, sedangkan masuk akal biasanya berlaku bagi kebenaran tertentu di luar lingkup pengetahuan. Sebagai contoh: tindakan marah dan menangis atau semacamnya, dapat dikatakan masuk akal sekalipun tindakan tersebut mungkin tidak rasional.
2. Isi empiris. Kebenaran ilmiah perlu diuji dengan kenyataan yang ada, bahkan sebagian besar pengetahuan dan kebenaran ilmiah, berkaitan dengan kenyataan empiris di alam ini. Hal ini tidak berarti bahwa dalam kebenaran ilmiah, spekulasi tetap ada namun sampai tingkat tertentu spekulasi itu bisa dibayangkan sebagai nyata atau tidak karena sekalipun suatu pernyataan dianggap benar secara logis, perlu dicek apakah pernyataan tersebut juga benar secara empiris.
3. Dapat diterapkan (pragmatis). Sifat pragmatis, berusaha menggabungkan kedua sifat kebenaran sebelumnya (logis dan empiris). Maksudnya, jika suatu “pernyataan benar” dinyatakan “benar” secara logis dan empiris, maka pernyataan tersebut juga harus berguna bagi kehidupan manusia. Berguna, berarti dapat untuk membantu manusia memecahkan berbagai persoalan dalam hidupnya.
Kebenaran ilmiah adalah kebenaran yang sesuai dengan fakta dan mengandung isi pengetahuan. Pada saat pembuktiannya kebenaran ilmiah harus kembali pada status ontologis objek dan sikap epistemologis (dengan cara dan sikap bagaimana pengetahuan tejadi) yang disesuaikan dengan metodologisnya.
Hal yang penting dan perlu mendapat perhatian dalam hal kebenaran ilmiah yaitu bahwa kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari para ilmuwan pada bidangnya masing-masing.
Kebenaran ditemukan dalam pernyataan-pertanyaan yang sah, dalam ketidak-tersembunyian (aleteia). Kebenaran adalah kesatuan dari pengetahuan dengan yag diketahui, kesatuan subjek dengan objek, dan kesatuan kehendak dan tindakan. Kebenaran sering dianggap sebagai sesuatu yang harus “ditemukan” atau direbut melalui pembedaan antara kebenaran dengan ketidakbenaran.
D. Masalah Kepastian dan Falibilisme Moderat
- Masalah Kepastian kebenaran Ilmiah
Ilmu pengetahuan tidak akan pernah memberikan suatu formulasi final dan absolute tentang seluruh universum. Pengakuan ini dalam filsafat ilmu pengetahuan disebut falibilisme. Falibilisme tidak berarti bahwa ilmu pengetahuan salah sama sekali, melainkan bahwa ilmuwan harus bersikap kritis terhadap apa yang sudah dicapainya.
- Fabilisme dan Metode Ilmu Pengetahuan
Falibilisme ilmu pengetahuan berasal dari dua sumber, yaitu sebagai konsekuensi dari metode ilmu pengetahuan, dan dari objek ilmu pengetahuan yaitu universum alam. Beberapa indikasi metodologis bisa dilihat sebagai alas an dari falibilisme moderat ini.
1) Peneliti sendiri tidak pernah merasa pasti dengan apa yang dicapainya sendiri
2) Fokus utama dari kegiatan penelitian ilmiah adalah verifikasi atau hipotesis
3) Karena metode induksi, seperti akan dibahas lebih lanjut, selalu tidak legkap
4) Setiap hipotesis pada dasarnya tidak pasti.
Maka dengan keempat alas an ini kita dapat mengatakan bahwa pengetahuan ilmiah itu tidak luput dari kekeliruan dan selalu terbuka pada kritik dan perbaikan.
E. Ilmu Teknologi dan kebudayaan
Pengertian Ilmu dan Ilmu Pengetahuan.
Batas kajian ilmu adalah fakta sedangkan batas kajian filsafat adalah logika atau daya pikir manusia. Ilmu menjawab pertanyaan “why” dan “how” sedangkan filsafat menjawab pertanyaan “why, why, dan why” dan seterusnya sampai jawaban paling akhir yang dapat diberikan oleh pikiran atau budi manusia (munkin juga pertanyaan-pertanyaannya terus dilakukan sampai never ending)..n oleh Heidegger, setiap telaahan filosofis terdapat unsur metafisik.
1. ilmu adalah pengetahuan yang bersifat umum dan sistematis, pengetahuan dari mana dapat disimpulkan dalil-dalil tertentu menurut kaidah-kaidah umum. (Nazir, 1988)
2. konsepsi ilmu pada dasarnya mencakup tiga hal, yaitu adanya rasionalitas, dapat digeneralisasi dan dapat disistematisasi (Shapere, 1974)
3. pengertian ilmu mencakup logika, adanya interpretasi subjektif dan konsistensi dengan realitas sosial (Schulz, 1962)
4. ilmu tidak hanya merupakan satu pengetahuan yang terhimpun secara sistematis, tetapi juga merupakan suatu metodologi
Empat pengertian di atas dapatlah disimpulkan bahwa ilmu pada dasarnya adalah pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahun tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait.
alam pengertian lain, pengetahuan adalah berbagai gejala yang ditemui dan diperoleh manusia melalui pengamatan inderawi. Pengetahuan muncul ketika seseorang menggunakan indera atau akal budinya untuk mengenali benda atau kejadian tertentu yang belum pernah dilihat atau dirasakan sebelumnya. Misalnya ketika seseorang mencicipi masakan yang baru dikenalnya, ia akan mendapatkan pengetahuan tentang bentuk, rasa, dan aroma masakan tersebut.
F. Etika Keilmuan
Istilah etika keilmuwan mengantarkan kita pada kontemplasi mendalam, baik mengenai hakekat, proses pembentukan, lembaga yang memproduksi ilmu lingkungan yang kondusif dalam pengembangan ilmu, maupun moralitas dalam memperoleh dan mendayagunakan ilmu tersebut. Oleh karena itu, ada beberapa hal yang mesti diperhatikan.
a. Etika
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi ketiga (2005:309), etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk serta tentang hak dan kewajiban moral. Moral yang dimaksudkan di sini adalah akhlak, yakni budi pekerti atau kelakuan makhluk hidup. itu dengan kata lain disebutkan bahwa etika itu membahas tentang perilaku menuju kehidupan yang baik, yang di dalamnya ada aspek kebenaran, tanggung jawab, peran, dan sebagainya.
b. Moral
Kata moral identik dengan suatu tindakan manusia yang bercorak khusus, yaitu didasarkan kepada pengertian mengenai baik-buruk. Berbicara tentang moral seseorang sama dengan membicarakan tentang kepribadian seseorang yang dimaksud. Karena itu, sesungguhnya moral telah membuat posisi manusia berbeda atau lebih sempurna daripada makhluk Tuhan lainnya.
c. Norma
Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat kelompok warga di dalam masyarakat, dipakai sebagai panduan, tatanan, dan pengendali tingkah laku yang sesuai dan berterima. Norma juga dapat disebutkan sebagai ukuran atau kaidah yang menjadi tolok ukur untuk menilai atau memperbandingkan sesuatu .Misalnya, setiap masyarakat harus menaati suatu tata tertib yang berlaku.
d. Kesusilaan
Kesusilaan atau susila merupakan bagian kecil dari norma sehingga kita mengenal nama norma susila, yaitu aturan yang menata tindakan manusia dalam pergaulan sosial sehari-hari, seperti pergaulan antara pria dan wanita. Kesusilaan dapat pula menjadi bagian dari adab dan sopan santun.
Selasa, 11 November 2014
Senin, 03 November 2014
Pengenalan Filsafat
A. Pengertian filsafat
Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Shopia”. Philos artinya cinta yang sangat mendalan, dan sophia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi arti filsafat secara hrfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadapat kearifan atau kebijakan. Filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu) dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat). Pada bagian lain Harold Tisus mengemukakan makna filsafat yaitu :
1. Filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan alam semesta
2. Filsafat adalah suatu metode berpikir rekflektif dan penelitian penalaran
3. Filsafat adalah suatu perangkat masalah-masalah
4. Filsafat adalah seperangkat teori dan sistem berpikir
Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan/ pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendaki lah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau diluarnya.
B. Ilmu Pengetahuan Sebagai Sketsa Umum Untuk Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
C. Fenomenologi Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon dan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Lorens Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak. Dalam arti sempit, ilmu tentang gejala-gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
Fenomenologi merupakan metode dan filsafat. Sebagai metode, fenomenologi membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomena yang murni. Fenomenologi mempelajari dan melukiskan ciri-ciri intrinsik fenomen-fenomen sebagaimana fenomen-fenomen itu sendiri menyingkapkan diri kepada kesadaran. Kita harus bertolak dari subjek (manusia) serta kesadarannya dan berupaya untuk kembali kepada “kesadaran murni”. Untuk mencapai bidang kesadaran murni, kita harus membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari. Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Dengan demikian fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali ke benda itu sendiri (Zu den Sachen Selbt), dan ini disebabkan benda itu sendiri merupkan objek kesadaran langsung dalam bentuk yang murni.
Pengertian ilmu yang terdapat dalam kamus Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu (Admojo, 1998). Mulyadhi Kartanegara mengatakan ilmu adalah any organized knowledge. Ilmu dan sains menurutnya tidak berbeda, terutama sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang-bidang fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampauinya pada bidang-bidang non fisik, seperti metafisika.
Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli seperti yang dikutip oleh Bakhtiar tahun 2005 diantaranya adalah :
• Mohamad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
• Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan ke empatnya serentak.
• Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.
• Ashley Montagu, menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
• Harsojo menerangkan bahwa ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan dan suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia. Lebih lanjut ilmu didefinisikan sebagai suatu cara menganalisis yang mengijinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk : “ jika .... maka “.
• Afanasyef, menyatakan ilmu adalah manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, katagori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.
Berdasarkan definisi di atas terlihat jelas ada hal prinsip yang berbeda antara ilmu dengan pengetahuan. Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.
D. Filsafat Pengetahuan dan Filsafat iIlmu Pengetahuan
Filsafat ilmu
Berdasarkan dari beberapa penjelasan yang telah kami jelaskan diatas kita sedikit lebih mengerti bahwa ilmu dalam disiplin filsafat ilmu itu berposisi sebagai objek dari kerja filsafat. Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap suatu disiplin ilmu. Filsafat ilmu adalah telaah lanjutan terhadap suatu bidang ilmu atau secondary reflexion. dengan mengalihkan perhatian dari objek-objek kajian suatu disiplin ilmu kepada sebuah kerja ilmiah suatu disiplin ilmu atau terhadap ilmu tersebut. Hingga menjadi jelaslah keterkaitan antara objek-objek kajian dengan metode-metode, antara masalah-masalah yang akan dipecahkan dengan tujuan kerja ilmiah, lalu jelas juga antara pendekatan secara ilmiah dan pengolahan bahan-bahan secara ilmiah.
Dalam filsafat ilmu ini kita mencoba menerapkan kefilsafatan dalam kegiatan ilmiah, para penyelenggara kegiatan keilmuan setidaknya bisa mengetahui lebih jelas lagi apakah anggapan dia terhadap sebuah kebenaran kegiatan keilmuan itu memang benar sesuai dengan kebenaran setelah diterpkan kefilsafatan dalam ilmu itu. Lalu perbedaan yang dapat kita lihat dari filsafat ilmu dengan sejarah ilmu, fisikologi ilmu, dan sosiologi ilmu yaitu terletak pada objek yang hendak dipecahkan serta metode yang digunakan. Filsafat ilmu tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana perkembangan ilmu pada saat ini atau dan bagaimana cara penyelenggaraannya, namun filsafat ilmu mempertenyakan masalah metodologik yaitu azas-azas apakah yang mampu menyebabkan ilmu telah memperoleh pengetahuan ilmiah.
Untuk menjawab pertanyaan itu tidak mungkin dilakukan oleh bidang ilmu tersebut namun membutuhkan kefilsafatan yang kritis dan jujur. Namun sebaliknya sang filoso ilmu harus menguasai filsafat sekaligus ilmu itu sendiri. Titik tolak yang digunakan bukan hasil dari refleksi sedehana terhadap skematik ilmu namun harus benar-benar bertitik tolak atas penyelenggaraan ilmu itu sendiri. Pertalian antara filsafat dan ilmu harus benar-benar menjelma pada sang filosof ilmu.
Dalam filsafat ilmu akan dibahas masalah persoalan epistemologi yang berkaitan dengan penyelenggaraan sebuah kegiatan ilmiah dan keabsahan simbol-simbol yang di pakai dalam suatu pembahasan keilmuan baik ilmu empirik, ilmu rasional, dan juga bidang ilmu etika dan estetika, kesejarahan, lalu dalam filsafat ilmu juga akan di bahas mengenai nilai konsekuensi pragmatik suatu ilmu terhadap realitas, mengkritisi masalah keempirisan suatu bidan ilmu empiris maupun kerasionalan.
Filsafat pengetahuan
Filsafat pengetahuan atau epistemologi ini terlihat samar sama dengan filsafat ilmu. Jika kita tidak memperhatikan terlebih dahulu terhadap pengertian atas dua kata antara ilmu dan pengetahuan. Pengertian ilmu mungkin telah di jelaskan diatas, namun beralih pada pengertian pengetahuan susah rasanya untuk mendefinisikan filsafat karena ketika kita bertanya tentang Apakah pengetahuan itu? Itu sendiri telah menunjukan sebuah kegiatan pengetahuan, itu memperlihatkan upaya mengetahui. Maka dari itu sebenarnya pengetahuan merupakan sebuah keba’dihian bagi manusia. Jika saja kita mencoba untuk mendefinisikan pengetahuan maka kita akan berputar-putar pada kata itu.
Filsafat pengetahuan atau epistemology ini adalah salah satu bagian yang terdapat dalam filsafat selain ontology dan aksiologi. Namun sebenarnya epistemology sendiri muncul baru-baru saat ini, meskipun sebenarnya persoalanya muncul sudah sejak lama. Karena pada zaman filosof-filosof seperti Mulla sadra ataupun Aristoteles epistemologi masih merupakan bagian dari pembahasan ontologi.
Epistemologi merupakan suatu awal mula perjalanan dari sebuah petualangan kefilsafatan karena epistemologi lah yang akan memberika berbagai petunjuk untuk kita bisa masuk dalam filsafat. Atau mungkin juga epistemology tidak hanya berpengaruh dan bermanfaat bagi filsafat namun juga berpengaruh terhadap perjalanan hidup seorang manusia karena epistemologi merupakan world view atau pandangan hidup bagi seorang manusia, karena pandangan hidup akan mempengaruhi terhadap idiologi seseorang dalam melakukan perbuatan. Mungkin karena alasan ini pula seorang ilmuwan sekaligus revolusioner Iran Murtadha Muthahhari sangat menekankan terhadap pembelajaran epistemologi ini, karena dunia sekarang sedang dilanda oleh pendangan dunia yang materialis, hingga tolak ukur sebuah kebenaran pun di tanggalkan pada materi. Padahal pada kenyataannya kita memiliki sebuah fitrah ataupun suatu keyekinan yang selalu mengharapkan kebahagyaan yang tak terhingga, sedangkan materi ternatas.
Dalam epistemologi akan dibahas tentang beberapa hal, mengenai apa sebenarnya pengetahuan itu lalu dengan apakah kita akan memiliki atau mendapatkan pengetahuan, alat apa saja yang bisa kita gunakan untuk kita mendapatkan pengetahuan, adakah sumber ataupun objek untuk kita mengetahui dan mendapatkan pengetahuan.
Dalam epistemologi para filosof mempertanyakan kembali bagaimana peroses mengetahui yang bisa mengantarkan pada sebuah kebenaran hakiki. Seperti yang telah dilakukan oleh Rene Descartes, filosof ini begitu kritis hingga berbagai pengetahuan yang ia miliki semenjak kecil ia hancurkan. Decart meragukan segalahal yang telah ia ketahui hingga akhirnya ia sampai pada sebuah kesimpulan yang beranggapa “jika aku berpikir maka aku ada”. Ataupun pyrlo yang begitu sekeptis terhadap berbagai pengetahuan.
Filsafat pengetahuan ataupun epistemologi adalah sebuah telaah kritis terhadap pengetahuan segala hal yang berkaitan dengan pengetahuan akan di bongkar dan di pertanyakan kembali. Berbagai intrumen seperti indra, akal, dan sebagainya akan di telaah kembali apakah sebenarnya yang mampu diketahui oleh berbagai instrument tadi. Apakah sesuatu yang non materi akan mampu di ketahui oleh instrument indra, jika tidak maka tidak mungkin kita akan menemukan pengetahuan tentang yang non materi hanya dengan menggunakan indra dan kita pun tidak bisa menolak ketidak beradaan sesuatu yang non materi karena kita sendiri tidak pernah mampu menggapai realitas itu dengan indra ini. Dalam peroses mengetahui sendiri instrument indra tidak mungkin akan mampu menggapai sebuah pengetahuan jika hanya bersandar pada instrument itu, karena alat itu hanya sebagai sebuah pengambil gambaran atau informasi namun pengolahan data di lakukan oleh akal.
E. Fokus Filsafat Ilmu Pengetahuan
Fokus filsafat ilmu pengetahuan adalah masalah metode ilmu pengethauan. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah membuka pikiran kita untuk mempelajari dengan serius proses logis dan imajinatif dalam cara kerja ilmu pengetahuan.
F . Manfaat belajar filsafat Ilmu Pengetahuan
Pertama, membantu mahasiswa untuk semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa dituntut untuk tetap kritis terhadap berbagai macam teori dan pengetahuan ilmiah yang diperoleh baik di ruang kuliah maupun dari berbagai sumber yang dapat diperolehnya. Kedua, bagi calon ilmuwan dengan memperkenalkan mereka dengan metode ilmu pengetahuan yang kiranya sangat berguna bagi mereka dalam mencari ilmu pengetahuan, khususnya dalam melakukan penelitian ilmiah. Ketiga, lebih praktis sifatnya, yaitu membantu kerja mahasiswa tersebut kelak dikemudian hari.yang dibutuhkan dari seseorang yang professional dalam bidang pekerjaannya adalah pertama-tama, kemampuan untuk melihat masalah, dimana masalahnya, seberapa besar masalahnya, apa dampaknya, dan bagaimana mengatasinya. Keempat, adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis. Jadi, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia, melainkan juga bermaksud membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam hidupnya.
Landasan pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek (ilmuan) .
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
J. Sarana Berfikir Ilmiah
Sarana berfikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah.
Pengertian Sarana Berfikir Ilmiah menurut para ahli :
Untuk itu terdapat syarat-syarat yang membedakan ilmu (science), dengan pengetahuan (knowledge), antara lain :
-Pengalaman.
-Otoritas .
-Cara berfikir deduktif.
-Cara berfikir induktif .
-Berfikir ilmiah (pendekatan ilmiah).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah :
Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”. Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.
Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : bahasa ilmiah, logika dan matematika, logika dan statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsep-konsep yang berlaku umum
Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari.
Fungsi berfikir ilmiah , sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan dalam kaitan kegiatan ilmiah secara keseluruhan. Dalam hal ini berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.
Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata “philos” dan “Shopia”. Philos artinya cinta yang sangat mendalan, dan sophia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi arti filsafat secara hrfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadapat kearifan atau kebijakan. Filsafat dapat diartikan sebagai suatu pendirian hidup (individu) dan dapat juga disebut pandangan hidup (masyarakat). Pada bagian lain Harold Tisus mengemukakan makna filsafat yaitu :
1. Filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan alam semesta
2. Filsafat adalah suatu metode berpikir rekflektif dan penelitian penalaran
3. Filsafat adalah suatu perangkat masalah-masalah
4. Filsafat adalah seperangkat teori dan sistem berpikir
Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan/ pemikiran manusia memiliki peran yang penting dalam menentukan dan menemukan eksistensinya. Berfilsafat berarti berpikir, tetapi tidak semua berpikir dapat dikategorikan berfilsafat. Berpikir yang dikategorikan berfilsafat adalah apabila berpikir tersebut mengandung tiga ciri yaitu radikan, sistematis dan universal. Untuk ini filsafat menghendaki lah pikir yang sadar, yang berarti teliti dan teratur. Berarti bahwa manusia menugaskan pikirnya untuk bekerja sesuai dengan aturan dan hukum-hukum yang ada, berusaha menyerap semua yang bersal dari alam, baik yang berasal dari dalam dirinya atau diluarnya.
B. Ilmu Pengetahuan Sebagai Sketsa Umum Untuk Pengantar Untuk Memahami Filsafat Ilmu
Pengertian-pengertian tentang filsafat ilmu, telah banyak dijumpai dalam berbagai buku maupun karangan ilmiah lainnya. Menurut The Liang Gie (1999), filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal-balik dan saling-pengaruh antara filsafat dan ilmu.
Sehubungan dengan pendapat tersebut serta sebagaimana pula yang telah digambarkan pada bagian pendahuluan dari tulisan ini bahwa filsafat ilmu merupakan penerusan pengembangan filsafat pengetahuan. Objek dari filsafat ilmu adalah ilmu pengetahuan. Oleh karena itu setiap saat ilmu itu berubah mengikuti perkembangan zaman dan keadaan tanpa meninggalkan pengetahuan lama. Pengetahuan lama tersebut akan menjadi pijakan untuk mencari pengetahuan baru. Hal ini senada dengan ungkapan dari Archie J.Bahm (1980) bahwa ilmu pengetahuan (sebagai teori) adalah sesuatu yang selalu berubah.
Dalam perkembangannya filsafat ilmu mengarahkan pandangannya pada strategi pengembangan ilmu yang menyangkut etik dan heuristik. Bahkan sampai pada dimensi kebudayaan untuk menangkap tidak saja kegunaan atau kemanfaatan ilmu, tetapi juga arti maknanya bagi kehidupan manusia (Koento Wibisono dkk., 1997).
Oleh karena itu, diperlukan perenungan kembali secara mendasar tentang hakekat dari ilmu pengetahuan itu bahkan hingga implikasinya ke bidang-bidang kajian lain seperti ilmu-ilmu kealaman. Dengan demikian setiap perenungan yang mendasar, mau tidak mau mengantarkan kita untuk masuk ke dalam kawasan filsafat. Menurut Koento Wibisono (1984), filsafat dari sesuatu segi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang berusaha untuk memahami hakekat dari sesuatu “ada” yang dijadikan objek sasarannya, sehingga filsafat ilmu pengetahuan yang merupakan salah satu cabang filsafat dengan sendirinya merupakan ilmu yang berusaha untuk memahami apakah hakekat ilmu pengetahuan itu sendiri.
C. Fenomenologi Pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
Fenomenologi (Inggris: Phenomenology) berasal dari bahasa Yunani phainomenon dan logos. Phainomenon berarti tampak dan phainen berarti memperlihatkan. Sedangkan logos berarti kata, ucapan, rasio, pertimbangan. Dengan demikian, fenomenologi secara umum dapat diartikan sebagai kajian terhadap fenomena atau apa-apa yang nampak. Lorens Bagus memberikan dua pengertian terhadap fenomenologi. Dalam arti luas, fenomenologi berarti ilmu tentang gejala-gejala atau apa saja yang tampak. Dalam arti sempit, ilmu tentang gejala-gejala yang menampakkan diri pada kesadaran kita.
Fenomenologi merupakan metode dan filsafat. Sebagai metode, fenomenologi membentangkan langkah-langkah yang harus diambil sehingga kita sampai pada fenomena yang murni. Fenomenologi mempelajari dan melukiskan ciri-ciri intrinsik fenomen-fenomen sebagaimana fenomen-fenomen itu sendiri menyingkapkan diri kepada kesadaran. Kita harus bertolak dari subjek (manusia) serta kesadarannya dan berupaya untuk kembali kepada “kesadaran murni”. Untuk mencapai bidang kesadaran murni, kita harus membebaskan diri dari pengalaman serta gambaran kehidupan sehari-hari. Sebagai filsafat, fenomenologi menurut Husserl memberi pengetahuan yang perlu dan esensial mengenai apa yang ada. Dengan demikian fenomenologi dapat dijelaskan sebagai metode kembali ke benda itu sendiri (Zu den Sachen Selbt), dan ini disebabkan benda itu sendiri merupkan objek kesadaran langsung dalam bentuk yang murni.
Pengertian ilmu yang terdapat dalam kamus Bahasa Indonesia adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu (Admojo, 1998). Mulyadhi Kartanegara mengatakan ilmu adalah any organized knowledge. Ilmu dan sains menurutnya tidak berbeda, terutama sebelum abad ke-19, tetapi setelah itu sains lebih terbatas pada bidang-bidang fisik atau inderawi, sedangkan ilmu melampauinya pada bidang-bidang non fisik, seperti metafisika.
Adapun beberapa definisi ilmu menurut para ahli seperti yang dikutip oleh Bakhtiar tahun 2005 diantaranya adalah :
• Mohamad Hatta, mendefinisikan ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum kausal dalam suatu golongan masalah yang sama tabiatnya, maupun menurut kedudukannya tampak dari luar, maupun menurut bangunannya dari dalam.
• Ralph Ross dan Ernest Van Den Haag, mengatakan ilmu adalah yang empiris, rasional, umum dan sistematik, dan ke empatnya serentak.
• Karl Pearson, mengatakan ilmu adalah lukisan atau keterangan yang komprehensif dan konsisten tentang fakta pengalaman dengan istilah yang sederhana.
• Ashley Montagu, menyimpulkan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
• Harsojo menerangkan bahwa ilmu merupakan akumulasi pengetahuan yang disistemasikan dan suatu pendekatan atau metode pendekatan terhadap seluruh dunia empiris yaitu dunia yang terikat oleh faktor ruang dan waktu, dunia yang pada prinsipnya dapat diamati oleh panca indera manusia. Lebih lanjut ilmu didefinisikan sebagai suatu cara menganalisis yang mengijinkan kepada ahli-ahlinya untuk menyatakan suatu proposisi dalam bentuk : “ jika .... maka “.
• Afanasyef, menyatakan ilmu adalah manusia tentang alam, masyarakat dan pikiran. Ia mencerminkan alam dan konsep-konsep, katagori dan hukum-hukum, yang ketetapannya dan kebenarannya diuji dengan pengalaman praktis.
Berdasarkan definisi di atas terlihat jelas ada hal prinsip yang berbeda antara ilmu dengan pengetahuan. Pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik mengenai matafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan pengetahuan adalah informasi yang berupa common sense, tanpa memiliki metode, dan mekanisme tertentu. Pengetahuan berakar pada adat dan tradisi yang menjadi kebiasaan dan pengulangan-pengulangan. Dalam hal ini landasan pengetahuan kurang kuat cenderung kabur dan samar-samar. Pengetahuan tidak teruji karena kesimpulan ditarik berdasarkan asumsi yang tidak teruji lebih dahulu. Pencarian pengetahuan lebih cendrung trial and error dan berdasarkan pengalaman belaka.
D. Filsafat Pengetahuan dan Filsafat iIlmu Pengetahuan
Filsafat ilmu
Berdasarkan dari beberapa penjelasan yang telah kami jelaskan diatas kita sedikit lebih mengerti bahwa ilmu dalam disiplin filsafat ilmu itu berposisi sebagai objek dari kerja filsafat. Filsafat ilmu adalah suatu telaah kritis terhadap suatu disiplin ilmu. Filsafat ilmu adalah telaah lanjutan terhadap suatu bidang ilmu atau secondary reflexion. dengan mengalihkan perhatian dari objek-objek kajian suatu disiplin ilmu kepada sebuah kerja ilmiah suatu disiplin ilmu atau terhadap ilmu tersebut. Hingga menjadi jelaslah keterkaitan antara objek-objek kajian dengan metode-metode, antara masalah-masalah yang akan dipecahkan dengan tujuan kerja ilmiah, lalu jelas juga antara pendekatan secara ilmiah dan pengolahan bahan-bahan secara ilmiah.
Dalam filsafat ilmu ini kita mencoba menerapkan kefilsafatan dalam kegiatan ilmiah, para penyelenggara kegiatan keilmuan setidaknya bisa mengetahui lebih jelas lagi apakah anggapan dia terhadap sebuah kebenaran kegiatan keilmuan itu memang benar sesuai dengan kebenaran setelah diterpkan kefilsafatan dalam ilmu itu. Lalu perbedaan yang dapat kita lihat dari filsafat ilmu dengan sejarah ilmu, fisikologi ilmu, dan sosiologi ilmu yaitu terletak pada objek yang hendak dipecahkan serta metode yang digunakan. Filsafat ilmu tidak berhenti pada pertanyaan bagaimana perkembangan ilmu pada saat ini atau dan bagaimana cara penyelenggaraannya, namun filsafat ilmu mempertenyakan masalah metodologik yaitu azas-azas apakah yang mampu menyebabkan ilmu telah memperoleh pengetahuan ilmiah.
Untuk menjawab pertanyaan itu tidak mungkin dilakukan oleh bidang ilmu tersebut namun membutuhkan kefilsafatan yang kritis dan jujur. Namun sebaliknya sang filoso ilmu harus menguasai filsafat sekaligus ilmu itu sendiri. Titik tolak yang digunakan bukan hasil dari refleksi sedehana terhadap skematik ilmu namun harus benar-benar bertitik tolak atas penyelenggaraan ilmu itu sendiri. Pertalian antara filsafat dan ilmu harus benar-benar menjelma pada sang filosof ilmu.
Dalam filsafat ilmu akan dibahas masalah persoalan epistemologi yang berkaitan dengan penyelenggaraan sebuah kegiatan ilmiah dan keabsahan simbol-simbol yang di pakai dalam suatu pembahasan keilmuan baik ilmu empirik, ilmu rasional, dan juga bidang ilmu etika dan estetika, kesejarahan, lalu dalam filsafat ilmu juga akan di bahas mengenai nilai konsekuensi pragmatik suatu ilmu terhadap realitas, mengkritisi masalah keempirisan suatu bidan ilmu empiris maupun kerasionalan.
Filsafat pengetahuan
Filsafat pengetahuan atau epistemologi ini terlihat samar sama dengan filsafat ilmu. Jika kita tidak memperhatikan terlebih dahulu terhadap pengertian atas dua kata antara ilmu dan pengetahuan. Pengertian ilmu mungkin telah di jelaskan diatas, namun beralih pada pengertian pengetahuan susah rasanya untuk mendefinisikan filsafat karena ketika kita bertanya tentang Apakah pengetahuan itu? Itu sendiri telah menunjukan sebuah kegiatan pengetahuan, itu memperlihatkan upaya mengetahui. Maka dari itu sebenarnya pengetahuan merupakan sebuah keba’dihian bagi manusia. Jika saja kita mencoba untuk mendefinisikan pengetahuan maka kita akan berputar-putar pada kata itu.
Filsafat pengetahuan atau epistemology ini adalah salah satu bagian yang terdapat dalam filsafat selain ontology dan aksiologi. Namun sebenarnya epistemology sendiri muncul baru-baru saat ini, meskipun sebenarnya persoalanya muncul sudah sejak lama. Karena pada zaman filosof-filosof seperti Mulla sadra ataupun Aristoteles epistemologi masih merupakan bagian dari pembahasan ontologi.
Epistemologi merupakan suatu awal mula perjalanan dari sebuah petualangan kefilsafatan karena epistemologi lah yang akan memberika berbagai petunjuk untuk kita bisa masuk dalam filsafat. Atau mungkin juga epistemology tidak hanya berpengaruh dan bermanfaat bagi filsafat namun juga berpengaruh terhadap perjalanan hidup seorang manusia karena epistemologi merupakan world view atau pandangan hidup bagi seorang manusia, karena pandangan hidup akan mempengaruhi terhadap idiologi seseorang dalam melakukan perbuatan. Mungkin karena alasan ini pula seorang ilmuwan sekaligus revolusioner Iran Murtadha Muthahhari sangat menekankan terhadap pembelajaran epistemologi ini, karena dunia sekarang sedang dilanda oleh pendangan dunia yang materialis, hingga tolak ukur sebuah kebenaran pun di tanggalkan pada materi. Padahal pada kenyataannya kita memiliki sebuah fitrah ataupun suatu keyekinan yang selalu mengharapkan kebahagyaan yang tak terhingga, sedangkan materi ternatas.
Dalam epistemologi akan dibahas tentang beberapa hal, mengenai apa sebenarnya pengetahuan itu lalu dengan apakah kita akan memiliki atau mendapatkan pengetahuan, alat apa saja yang bisa kita gunakan untuk kita mendapatkan pengetahuan, adakah sumber ataupun objek untuk kita mengetahui dan mendapatkan pengetahuan.
Dalam epistemologi para filosof mempertanyakan kembali bagaimana peroses mengetahui yang bisa mengantarkan pada sebuah kebenaran hakiki. Seperti yang telah dilakukan oleh Rene Descartes, filosof ini begitu kritis hingga berbagai pengetahuan yang ia miliki semenjak kecil ia hancurkan. Decart meragukan segalahal yang telah ia ketahui hingga akhirnya ia sampai pada sebuah kesimpulan yang beranggapa “jika aku berpikir maka aku ada”. Ataupun pyrlo yang begitu sekeptis terhadap berbagai pengetahuan.
Filsafat pengetahuan ataupun epistemologi adalah sebuah telaah kritis terhadap pengetahuan segala hal yang berkaitan dengan pengetahuan akan di bongkar dan di pertanyakan kembali. Berbagai intrumen seperti indra, akal, dan sebagainya akan di telaah kembali apakah sebenarnya yang mampu diketahui oleh berbagai instrument tadi. Apakah sesuatu yang non materi akan mampu di ketahui oleh instrument indra, jika tidak maka tidak mungkin kita akan menemukan pengetahuan tentang yang non materi hanya dengan menggunakan indra dan kita pun tidak bisa menolak ketidak beradaan sesuatu yang non materi karena kita sendiri tidak pernah mampu menggapai realitas itu dengan indra ini. Dalam peroses mengetahui sendiri instrument indra tidak mungkin akan mampu menggapai sebuah pengetahuan jika hanya bersandar pada instrument itu, karena alat itu hanya sebagai sebuah pengambil gambaran atau informasi namun pengolahan data di lakukan oleh akal.
E. Fokus Filsafat Ilmu Pengetahuan
Fokus filsafat ilmu pengetahuan adalah masalah metode ilmu pengethauan. Maka logika dan imajinasi merupakan dua dimensi penting dari seluruh cara kerja ilmu pengetahuan. Tugas filsafat ilmu pengetahuan adalah membuka pikiran kita untuk mempelajari dengan serius proses logis dan imajinatif dalam cara kerja ilmu pengetahuan.
F . Manfaat belajar filsafat Ilmu Pengetahuan
Pertama, membantu mahasiswa untuk semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa dituntut untuk tetap kritis terhadap berbagai macam teori dan pengetahuan ilmiah yang diperoleh baik di ruang kuliah maupun dari berbagai sumber yang dapat diperolehnya. Kedua, bagi calon ilmuwan dengan memperkenalkan mereka dengan metode ilmu pengetahuan yang kiranya sangat berguna bagi mereka dalam mencari ilmu pengetahuan, khususnya dalam melakukan penelitian ilmiah. Ketiga, lebih praktis sifatnya, yaitu membantu kerja mahasiswa tersebut kelak dikemudian hari.yang dibutuhkan dari seseorang yang professional dalam bidang pekerjaannya adalah pertama-tama, kemampuan untuk melihat masalah, dimana masalahnya, seberapa besar masalahnya, apa dampaknya, dan bagaimana mengatasinya. Keempat, adalah bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya bersifat puritan-elitis, melainkan juga pragmatis. Jadi, ilmu pengetahuan tidak hanya berhenti sekedar memuaskan rasa ingin tahu manusia, melainkan juga bermaksud membantu manusia untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi manusia dalam hidupnya.
G. Ruanglingkup
dan kedudukan filsafat ilmu
Ruang
lingkup dalam bidang filsafat mencakup dua pokok bahasan yaitu, sifat ilmu
pengetahuan dan cara-cara mengusahakan
pengetahuna ilmiah. Bidang pertama berkaitan dengan filsafat pengetahuan atau
epistemologi yang secara umum menyelidiki syarat serta bentuk pengetahuan
manusia. Bidang kedua berkaitan dengan logika dan metodologi, pada bidang ini
filsafat sering disamakan pengertiannya dengan metodologi.
Filsafat
ilmu dikolompokan menjadi dua, yaitu :
1. Filsafat
ilmu umum
Kelompok
ini mencakup kajian tentang persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubungan
diantara segenap ilmu.
2.
Filsafat
ilmu khusus
Kelompok ini membahas tentang kategori serta metode yang
digunakan pada ilmu tertentu.
Filsafat ilmu dapat pula dikelompokan berdasarkan model
pendekatan, yaitu :
1.
Filsafat
ilmu terapan
Yaitu filsafat ilmu yang mengkaji pokok pikiran yang
melatarbelakangi pengetahuan normatif ilmu. Filsafat ilmu terapan bertitik
tolak dari ilmu bukan dari filsafat. Filsafat ilmu terapan sebagai pengetahuan
normatif mencakup Pengetahuna yang berpola hakekat keilmuan, pengetahuan model
praktik ilmiah dari pola pikir, pengetahuan dari berbagai sarana ilmu, dan
serangkaian nilai yang bersifat etis.
2.
Filsafat
ilmu murni
Yaitu bentuk kajian filsafat yang menelaah secara kritis dan eksploratif terhadap materi
kefilsafatan dan membuka kemungkinan berkembangnya ilmu baru. Filsafat ilmu
murni berasal dari kajian filosofis asumsi dasar yang berlaku pada ilmu.
H. Sejarah Perkembangan Ilmu
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani Kuno dan diakhiri pada zaman kontemporer.
a. Zaman Pra Yunani Kuno
a. Zaman Pra Yunani Kuno
Pada masa ini manusia masih menggunakan batu sebagai peralatan. Oleh karena itu, zaman pra Yunani Kuno disebut juga zaman Batu yang berkisar antara empat juta tahun sampai 20.000 tahun Sebelum Masehi sisa peradaban manusia yang ditemukan pada masa ini (dalam Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat, 1996) antara lain :
a. Alat-alat dari batu
b. Tulang belulang hewan
c. Sisa beberapa tanaman
d. Gambar di gua-gua
e. Tempat penguburan f
a. Alat-alat dari batu
b. Tulang belulang hewan
c. Sisa beberapa tanaman
d. Gambar di gua-gua
e. Tempat penguburan f
Tulang-belulang manusia purba Pada abad ke-6 SM di Yunani muncul lahirnya filsafat. Timbulnya filsafat ditempat itu disebut suatu peristiwa ajaib (the greek miracle). Ada beberapa faktor yang sudah mendahului dan seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani. Beberapa faktor tersebut diantaranya : pada bangsa Yunani dan bangsa-bangsa sekitarnya terdapat suatu mitologi yang kaya dan luas, Kesusastraan Yunani berupa puisi karya Homeros yang sangat digemari oleh rakyat untuk mengisi waktu terluang dan serentak juga mempunyai nilai edukatif, dan pengaruh ilmu pengetahuan yang pada waktu itu sudah terdapat di Timur Kuno. Pada zaman pra Yunani Kuno di dunia ilmu pengetahuan dicirikan berdasarkan know how yang dilandasi pengalaman empiris. Disamping itu, kemampuan berhitung ditempuh dengan cara one-to one correspondency atau mapping process. Contoh, cara menghitung hewan yang akan masuk dan keluar kandang dengan menggunakan kerikil. Namun pada masa ini manusia sudah mulai memperhatikan keadaan alam semesta sebagai suatu proses alam. Dengan demikian lama kelamaan mereka juga memperhatikan dan menemukan hal-hal lainnya.
b . Zaman Yunani Kuno
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada zaman ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena bangsa Yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiri attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa filsuf pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras. Socrates, Plato, dan Aristoteles.
c. Zaman Abad Pertengahan
Zaman abad pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog , sehingga aktivitas terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini. Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perberdaan itu terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang diajarkan oleh Nabi Isa as. pada permulaan abad Masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan keagamaan. Agama Kristen menjadi problem kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu.
d. Zaman Renaissance
Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance adalah zaman peralihan ketika kebudayaan abad Pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Ilahi. Penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada zaman Renaissance. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti
Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei.
e. Zaman Modern
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman Renaissance. Seperti Rene Descartes, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Isaac Newton
dengan temuannya teori gravitasi. Charles Darwin dengan teorinya struggle for life (perjuangan untuk hidup). J. J. Thompson dengan temuannya elektron.
b . Zaman Yunani Kuno
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada zaman ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena bangsa Yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima begitu saja), melainkan menumbuhkan sikap an inquiri attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis). Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa filsuf pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras. Socrates, Plato, dan Aristoteles.
c. Zaman Abad Pertengahan
Zaman abad pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog , sehingga aktivitas terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini. Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya. Perberdaan itu terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang diajarkan oleh Nabi Isa as. pada permulaan abad Masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan keagamaan. Agama Kristen menjadi problem kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu.
d. Zaman Renaissance
Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance adalah zaman peralihan ketika kebudayaan abad Pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Ilahi. Penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada zaman Renaissance. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti
Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei.
e. Zaman Modern
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman Renaissance. Seperti Rene Descartes, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Isaac Newton
dengan temuannya teori gravitasi. Charles Darwin dengan teorinya struggle for life (perjuangan untuk hidup). J. J. Thompson dengan temuannya elektron.
f. Zaman Kontemporer
Zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi canggih komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya. Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kontemporer mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan subspesialis atau super-spesialis, demikian pula bidang ilmu lain. Disamping kecenderungan kearah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihasilkannya bidang ilmu baru seperti bioteknologi yang dewasa ini dikenal dengan teknologi kloning.
Zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi canggih komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya. Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kontemporer mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan subspesialis atau super-spesialis, demikian pula bidang ilmu lain. Disamping kecenderungan kearah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihasilkannya bidang ilmu baru seperti bioteknologi yang dewasa ini dikenal dengan teknologi kloning.
I. Landasan Penelaahan Ilmu
Landasan pokok dalam penelaahan ilmu bertumpu pada tiga cabang filsafat, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Landasan ontologi berkaitan dengan pemahaman seseorang tentang kenyataan, landasan epistemologi memberikan pemahaman tentang sumber dan sarana pengetahuan manusia sedangkan landasan aksiologi yang memberikan suatu pemahaman tentang nilai hubungan kualitas obyek dengan subyek (ilmuan) .
1. Landasan Ontologi
Ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang yang ada. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan ontologi mempertanyakan tentang objek apa yang ditelaah ilmu, bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut . Secara ontologi ilmu membatasi lingkup penelaahan keilmuannya hanya pada daerah-daerah yang berada dalam jangkauan pengalaman manusia. Objek penelaahan yang berada dalam batas pra-pengalaman dan pasca pengalaman diserahkan ilmu kepada pengetahuan lain. Ilmu hanya merupakan salah satu pengetahuan dari sekian banyak pengetahuan yang mencoba menelaah kehidupan dalam batas ontologi tertentu. Penetapan lingkup batas penelaahan keilmuan yang bersifat empiris ini adalah konsisten dengan asas epistimologi keilmuan yang mensyaratkan adanya verifikasi secara empiris dalam proses penemuan dan penyusunan pernyataan yang bersifat benar secara ilmiah .
Disamping itu, secara ontologi ilmu bersifat netral terhadap nilai-nilai yang bersifat dogmatik dalam menafsirkan hakikat realitas, sebab ilmu merupakan upaya manusia untuk mempelajari alam sebagaimana adanya. Sebagaimana kita mendefinisikan manusia, maka berbagai pengertianpun akan muncul.
Contoh: ada pertanyaan, Siapakah manusia itu? Jawab ilmu ekonomi ialah makhluk ekonomi sedang ilmu politik menjawab manusia adalah mahluk politikal.
2. Landasan Epistimologi
Epistimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan tentang asal muasal, sumber, metode, struktur dan validitas atau kebenaran pengetahuan. Dalam kaitannya dengan ilmu, landasan epistimologi mempertanyakan bagaimana proses yang memungkinkan ditimbanya pengetahuan yang berupa ilmu? Bagaimana prosedurnya? Apa kriterianya? Cara atau teknik atau sarana apa yang membantu kita dalam mendapatkan pengetahuan yan berupa ilmu? .
Landasan epistimologi ilmu tercermin secara operasional dalam metode ilmiah. Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan:
a. Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang bersifat konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun.
b. Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka pemikiran tersebut.
c. Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud untuk menguji kebenaran pernyataan secara faktual .
Kerangka pemikiran yang logis adalah argumentasi yang bersifat rasional dalam mengembangkan terhadap fenomena alam. Verifikasi secara empiris berarti evaluasi secara obyektif dari suatu pernyataan hipotesis terhadap kenyataan faktual. Verifikasi ini berarti bahwa ilmu terbuka untuk kebenaran lain selain yang terkandung dalam hipotesis. Demikian juga verifikasi faktual membuka diri terhadap kritik kerangka pemikiran yang mendasari pengajuan hipotesis. Kebenaran ilmiah dengan keterbukaan terhadap kebenaran baru mempunyai sifat pragmatis yang prosesnya secara berulang (siklus) berdasarkan cara berpikir kritis . Karena ilmu merupakan sikap hidup untuk mencari suatu kebanaran dan mencintai kebenaran sesuai dengan kaitan moral.
3. Landasan Aksiologi
Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasional? .
Pada dasarnya ilmu harus dipergunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat, martabat manusia dan kelestarian atau keseimbangan alam .
Untuk kepentingan manusia tersebut pengetahuan ilmiah yang diperoleh dan disusun dipergunakan secara komural dan universal. Komural berarti ilmu merupakan pengetahuan yang menjadi milik bersama, semua orang berhak memanfaatkan ilmu menurut kebutuhannya. Universal berarti ilmu tidak memiliki konotasi ras, ideologi atau agama.
Sebagaimana contoh seorang kepala desa mempelajari ilmu manajemen desa secara detail, mulai dari wilayah desa, mata pencaharian penduduk sampai dengan kehidupan sehari-hari para penduduk sekitar. Dengan landasan aksiologi mempertanyakan nilai apa yang terdapat didalam ilmu manajemen desa tersebut, sehingga terjawablah pertanyaan nilai tersebut dengan gambaran keberhasilan kepala desa untuk memajukan desanya dalam bidang kesejahteraan penduduk desa dan kelestarian wilayah desa.
Sarana berfikir ilmiah merupakan alat yang membantu kegiatan ilmiah dalam berbagai langkah yang harus ditempuh tanpa penguasaan sarana berpikir ilmiah kita tidak akan dapat melaksanakan kegiatan berpikir ilmiah yang baik. Mempunyai metode tersendiri yang berbeda dengan metode ilmiah dalam mendapatkan pengetahuannya sebab fungsi sarana berpikir ilmiah adalah membantu proses metode ilmiah.
Pengertian Sarana Berfikir Ilmiah menurut para ahli :
- Menurut Salam (1997:139): Berfikir ilmiah adalah proses atau aktivitas manusia untuk menemukan/mendapatkan ilmu. Berfikir ilmiah adalah proses berpikir untuk sampai pada suatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.
- Menurut Jujun S.Suriasumantri. Berpikir merupakan kegiatan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar. Berpikir ilmiah adalah kegiatan akal yang menggabungkan induksi dan deduksi.
- Menurut Kartono (1996, dalam Khodijah 2006:118). Berpikir ilmiah, yaitu berpikir dalam hubungan yang luas dengan pengertian yang lebih komplek disertai pembuktian-pembuktian.
- Menurut Eman Sulaeman. Berfikir ilmiah merupakan proses berfikir/pengembangan pikiran yang tersusun secara sistematis yang berdasarkan pengetahuan-pengetahuan ilmiah yang sudah ada.
Untuk itu terdapat syarat-syarat yang membedakan ilmu (science), dengan pengetahuan (knowledge), antara lain :
- Menurut Prof.Dr.Prajudi Atmosudiro, Adm. Dan Management Umum 1982. Ilmu harus ada obyeknya, terminologinya, metodologinya, filosofinya dan teorinya yang khas.
- Menurut Prof.DR.Hadari Nawawi, Metode Penelitian Bidang Sosial 1985. Ilmu juga harus memiliki objek, metode, sistematika dan mesti bersifat universal.
-Pengalaman.
-Otoritas .
-Cara berfikir deduktif.
-Cara berfikir induktif .
-Berfikir ilmiah (pendekatan ilmiah).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dari sarana berpikir ilmiah adalah :
- Sarana berfikir ilmiah bukanlah ilmu melainkan kumpulan pengetahuan yang didapatkan berdasarkan metode ilmu.
- Tujuan mempelajari metode ilmiah adalah untuk memungkinkan kita melakukan penelaahan ilmiah secara baik.
Seseorang yang tidak berpikir berada sangat jauh dari kebenaran dan menjalani sebuah kehidupan yang penuh kepalsuan dan kesesatan. Akibatnya ia tidak akan mengetahui tujuan penciptaan alam, dan arti keberadaan dirinya di dunia. Banyak yang beranggapan bahwa untuk “berpikir secara mendalam”, seseorang perlu memegang kepala dengan kedua telapak tangannya, dan menyendiri di sebuah ruangan yang sunyi, jauh dari keramaian dan segala urusan yang ada. Sungguh, mereka telah menganggap “berpikir secara mendalam” sebagai sesuatu yang memberatkan dan menyusahkan. Mereka berkesimpulan bahwa pekerjaan ini hanyalah untuk kalangan “filosof”. Bagi seorang ilmuan penguasaan sarana berfikir ilmiah merupakan suatu keharusan, karena tanpa adanya penguasaan sarana ilmiah, maka tidak akan dapat melaksanakan kegiatan ilmiah dengan baik. Sarana ilmiah pada dasarnya merupakan alat untuk membantu kegiatan ilmiah dengan berbagai langkah yang harus ditempuh.
Sarana berfikir ilmiah pada dasarnya ada tiga, yaitu : bahasa ilmiah, logika dan matematika, logika dan statistika. Bahasa ilmiah berfungsi sebagai alat komunikasi untuk menyampaikan jalan fikiran seluruh proses berfikir ilmiah. Logika dan matematika mempunyai peranan penting dalam berfikir deduktif sehingga mudah diikuti dan mudah dilacak kembali kebenarannya. Sedang logika dan statistika mempunyai peranan penting dalam berfikir induktif dan mencari konsep-konsep yang berlaku umum
Tujuan mempelajari sarana berpikir ilmiah adalah untuk memungkinkan kita untuk menelaah ilmu secara baik. Sedangkan tujuan mempelajari ilmu dimaksudkan untuk mendapatkan pengetahuan yang memungkinkan kita untuk dapat memecahkan masalah kita sehari-hari.
Fungsi berfikir ilmiah , sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan dalam kaitan kegiatan ilmiah secara keseluruhan. Dalam hal ini berpikir ilmiah merupakan alat bagi cabang-cabang ilmu untuk mengembangkan materi pengetahuaannya berdasarkan metode ilmiah.
Langganan:
Komentar (Atom)